"10 detik pertama Anda adalah pengunjung, 10 detik selanjutnya kita adalah saudara.." Sebenarnya aku tidak ingin terpublikasikan atau dipublikasikan, karena aku yakin hampir seluruh umat manusia di bumi ini telah di beri mata dan telinga oleh Tuhan-nya masing-masing. Maka, lambat laun kita pasti akan saling menemukan.
BERSAJAK
Awal
Aby Azy Tr
Mendung tak jadi berkunjung
Dan aku tak harus membuka payung
Aku duduk di garis paling depan jeda yang panjang
Ketika sepi dibungkam batuk yang janggal:
Aku terserang flu
Untuk sebentar aku menjadi orang yang
Tak bisa diam dan terus bersuara
Di cafe itu adalah awal kau menenggelamkan
Tubuhmu dimataku
Entahlah, seketika semua menjadi sunyi ditelingaku
Dan mataku hanya mampu melihat kunang-kunang
Yang ditelan lampu taman
Pertemuan adalah keterpaksaanku untuk terserang flu
Terus sampai suara batukku menghentikan cerita panjangmu
Tentang malaikat yang berpangkat
Melihat Diam
Aby Azy Tr
Dimana harus kuletakan huruf yang tak terbaca?
Jika dibalik selimut penuh dengan kata yang acak
Kata harus segera menjadi kalimat
Sebelum semuanya menjadi tak terlihat dan diam
Wanita yang mengakhiri senja itu, Mayura!
Aby Azy Tr
Terlalu banyak berjalan, terlalu banyak melihat
Telah mengantarkanku pada sudut sempit kerongkonganmu yang gelap
Suaramu masih melekat diujung hidungku
Dan nafasmu masih menempel di pori-pori dadaku
Aku bukan diam, telah aku coba ratusan bahkan ribuan kali untuk
keluar dari kerongkonganmu
Aku bukan tidur, telah aku coba untuk bangun dan tersadar setiap kali
matahari membakar
Masihkah kau menjelajahi hutan-hutan?
Berjalan di altar hijau yang berbunga, hingga menenggelamkan diri di mata air
Selalu itu yang kau lakukan untuk mengakhiri senja
Hei lihat! Kukumu menguning, perutmu bergelombang
Dan tangis bayi, juga bau anyir, kenapa itu mendadak hilang?
Sebelum Hujan
Aby Azy Tr
Mendung membawa kabar
Bahwa angin bertiup bercabang
Silahkan berkunjung
Dan bawa aku bergabung dengan rimbunnya rintik air yang menyerang
Kilau halilintar mampu mengumpulkan
Ribuan kunang-kunang beraneka warna
Daun menari, tiang besi membeku
Debu berlari, kerumunan menepi
Gerimis datang, jangan pernah marahi hujan
Karena aku suka wangi tanah sehabisnya
Itu mengingatkanku pada wangi kopi bercampur melati
Waktu
Aby Azy Tr
Waktu adalah ruang bagi segala keputusan
untuk saling bertumpukan
Semalam, Aku Terbakar!
Aby Azy Tr
Sebuah botol menggelinding menabrak kaki seorang yang mabuk
Kalimat seperti doa menetes dari bibir
Juga kutukan-kutukan yang tak sempat aku titipkan pada terang lampu
Menyempurnakan batas antara sadar dan kematian;
"Jangan ada api, ini musim dingin" teriakku
Aku terseret kedalam kutukan-kutukan paling liar
Aku hilang di comberan-comberan perkotaan
Lalu tanah-tanah menjadi basah, daun-daun menyala-nyala
Batu-batu mencair, menggenangi tarian tubuh-tubuh yang terbakar
Usai menari-nari, kini waktunya memeras asap
Dan aku menggeliat, terbakar dengan gerakan-gerakan tidur yang lambat
Limabelas Menit
Aby Azy Tr
Limabelas menit aku menjilati wangimu
Menjaring nafasmu, memasuki pori-porimu
Suaramu menjadi lagu,
Bergelombang menyelinap menyusuri kegelapan
Hingga akhirnya menyentuh kedalaman dadaku
Di remang lampu kulukiskan kejadian itu
Gelap yang tenang, kumaknai sebagai penciptaan
Jika kuputar balik waktu:
Ada yang hampir mati menunggu malam
Dan kusebut itu pengharapan
Tak ada lagi perjalanan diri sendiri
Ketika kita telah berdua
Semua rakaat menjadi akhir pencarian
Kumaknai itu awal pencapaian
Aku terus membendung detik yang berlari
Dengan ungkapan-ungkapan paling sunyi
Dengan usapan demi usapan jari-jari yang pemalu
Hei, ini masih sore! tiang-tiang belum sedingin batu
Daun-daun belum pula berkeringat
Kini kalimatku berjuang melawan limabelas menit yang singkat
Saat pikiranku linglung dihimpit waktu
Ada kata yang tak sempat terucap
Telah aku titipkan diam-diam
Melalui satu ciuman yang akan berulang
TAHUN TANPA KABISAT
Aby Azy Tr
Di budaya timur, dikepulauan paling barat
Aku dilahirkan dari rahim seorang bidadari
Kali pertama aku membaca udara, menjilati cuaca
Mengintip alam semesta
Dan itu lebih sunyi dari penciptaan bumi
Oh, begini rasanya dilahirkan
Tepat pada hitungan ke dua puluh sembilan
Aku menangis bersama adzan subuh
Mataku perih, tubuhku berair
Semuanya asing
Aku menggeliat, aku berkeringat
Bumi telah menyediakan ruang untukku
Aku terus berkeringat
Dan semakin menggeliat
Seorang bayi telah lahir tapi bukan di tahun ini
RUMAH
Aby Azy Tr
Setiap pagi adalah gempa bumi yang mesra
Akankah kita akan terus menjadi manusia?
Tuhan!
Aku hampir lupa ternyata masih punya rumah!
UNTUK ITU, AKU MENCARIMU
Aby Azy Tr
Padi-padi semakin mengikal, seperti rambutmu
Dan tubuhmu berlompat-lompatan di dua hari yang padat
Di hari pertama, kutemukan wajahmu diantara puluhan wajah wanita lainnya,
membakar seluruh pakaian dan suaraku;
itu adalah awal perjalananku menjadi batu yang berharap
Di hari kedua, mendadak aku menjadi seorang mata-mata yang amatir,
membidik dan mengabadikanmu dalam hitungan seperkian detik,
lalu setelahnya berupa perjalanan diam
Untuk itu, aku mencarimu ..
KUPU-KUPU
Aby Azy Tr
Jalani sedatar-datarnya
Benar katamu Bentang Elanglangit;
Ketulusan hanya berupa diam ..
Bukankah akan lucu??
Jika perbincangan seperti tanpa lawan bicara??
Tak perlu khawatir, Qissy ..
Penulis dapat berbicara dengan dirinya sendiri
mencopot jantungnya, melepas paru-parunya
menyetubuhi tubuhnya sendiri !!
Penulis selalu telanjang bagai kupu-kupu ..
APA YANG KITA RASAKAN?
Aby Azy Tr
Yang terjadi sekarang adalah:
Kediamanmu ungkapan lain dari teguran Tuhan untuk saling menjauh,
isyarat tegas dari si bisu kepada si buta yang bulat matanya telah menjadi batu!
Apa yang kau rasakan?
Keterusikan malam yang enggan bicara pada embun yang bergerak kikuk,
menjalar mencari jalan menuju suaramu, menguap,
melekati rumput kemaluanmu di surga.
Apa yang aku rasakan?
Si buta yang gagal menafsirkan isyarat Tuhan!
PEREMPUAN KITA
Aby Azy Tr
Perempuan kita tergelincir dalam lumpur dan sabun
Melipat rahim dalam gumpalan mimpi basah remaja tanggung
Mereka masih hidup dalam logika kunci dan gembok
Perempuan kita telanjang menyusui janin teman sebangkunya
Mengubur noda merah celana dalamnya
Menangisi pembalut yang dirampas kekasihnya
Mereka bunuh diri tanpa luka, dibunuh mesra
Perempuan kita hidup lagi,
Berlomba-lomba lagi !!
Menyerahkan diri seutuhnya pada lelaki paling sempurna disekelilingnya
: dibunuh mesra, bunuh diri lagi
Lihat !! Perempuan kita berdarah tertusuk kapur tulis !!
...
Seperti terngiang di telingaku cacian para wanita pembaca puisi ini;
Mereka melaknatku!!
Kuharap kalian memahaminya dari sisi yang kuinginkan..
GADIS IKAL BERUMUR JAGUNG
Aby Azy Tr
Selain aku tak ada orang yang mendengarkanku,
Apakah aku dapat menjadikan orang tuli itu mendengar
walaupun dia tidak mengerti??
Maknai kalimat ini;
"Bila aku telah menanam asmara, cinta menjelma menjadi agama"
Itu masih terbaca bodoh untukmu..
: gadis ikal berumur jagung, congkak dan datar !!
Aku tidak sedang mengatakan bahwa semua yang kusampaikan bebas dari kesalahan,
bila kamu mampu menemukan rahasia di balik kata ..
Yakinlah itu adalah cermin yang memberimu bayang hati penulisnya.
MAAF, MENGHAPUSMU
Aby Azy Tr
Tiba di detik kesekian,
Aku harus membunuh beberapa teman malamku ..
Atau,
Hapus satu bidadari mungilku dari otak yang menyepi ..
Hilangmu adalah kemunculan baru bidadari-bidadari yang bisa bernyanyi ..
BERTANYALAH, KENAPA?
Aby Azy Tr
Andai kamu bertanya "kenapa??"
Akan ku jawab ;
Karena kota ini terlalu luas untuk kita berdua saling berjanji dan menentukan hari ..
Karena kota ini selalu hujan untuk kita berdua memulai mimpi basah dibawah sinar matahari ..
Ini kotamu,
Kamu berhak membakar janji atau pun menurunkan hujan ..
Huh!
Kota ini tidak sekalipun membolehkanku mempunyai kenangan ..
Subscribe to:
Posts (Atom)
,, Bagus koux ,, :)
ReplyDeleteTerimakasih -)
Deletebang, puisinya. Boleh saya panggil bang Abi penyair? jadi ngefans :D
ReplyDeletehehehe .. terimakasih hartatiiiii :D
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete