SIAPA YANG LEBIH LAYAK??
Aby Azy Tr
Sebuah kebetulan ketika kantor polisi dan taman kanak-kanak terletak bersebelahan. Hampir disetiap pagi anak-anak itu memilih untuk memandangi seragam polisi yang berbaris rapih ketimbang harus memandangi embun pagi yang hampir menghilang, gagahnya seragam polisi itu mampu menyilaukan mata lugu anak-anak yang dalam kenyataan sebenarnya adalah mata mereka lah yang lebih menyilaukan dari embun pagi; dan yang pasti lebih bening dari seragam polisi.
Suasana pagi yang dekat dengan pasar menciptakan lalu lintas yang padat dan sedikit tak terkendali. Suara klakson kendaraan bermotor tak kalah nyaring dengan teriakan kondektur angkutan umum, suara pedagang asongan tak kalah beragam dengan teriakan binatang-binatang yang diperjualkan, mereka semua terlihat seperti terburu-buru untuk mencapai sesuatu yang saya rasa bukan hanya sekedar cita-cita namun sudah menjadi sebuah kebutuhan tertinggi untuk menyambung hidup agar terus bisa bernafas.
Di sisi jalan, di seberang sekolah taman kanak-kanak, seorang ibu terlihat waspada memperhatikan arus lalu lintas yang deras, ibu itu dengan erat memegangi tangan anaknya; dan selalu mata bening itu masih memandangi seragam polisi yang berbaris rapih. Kendaraan bermotor dan angkutan umum yang mencoba saling mendahului sepertinya tak ada celah untuk melirik ibu dan anak itu, walau hanya sekedar merelakan sedikit waktu untuk mempersilahkan mereka menyeberang. Wajah ragu dan ketakutan ibu itu makin menggumpal seiring gerak kakinya yang selalu gagal melangkah.
Disebelah seberang lainnya, dibawah matahari yang masih hangat, para polisi berseragam rapih sedang berbaris melaksanakan upacara rutin pagi hari. Dengan posisi berdiri yang tegap dan tatapan yang lurus kedepan, wajah mereka tegas penuh wibawa. Debu jalanan dan suara bising kendaraan seperti enggan untuk mengusik kegiatan mereka. Kendaraan bermotor, angkutan umum, dan para pedagang asongan seperti merendahkan suaranya, seperti memperlambat laju dan langkahnya.
Sebuah polisi tidur berlapis yang mampu melakukan itu, tepat dibuat di depan sebuah kantor polisi, tepat dengan tujuan yang mungkin tepat untuk tidak mengganggu aktifitas kepolisian, dan tepat untuk memaksa lalu lintas memperlambat arusnya.
Disebelah seberang lainnya, seorang ibu masih ragu untuk menyeberang dengan terus memegangi erat tangan anaknya; dan selalu mata bening itu masih terus memandangi seragam polisi yang berbaris rapih.
BINGUNG HARUS MENULIS APA!!
Aby Azy Tr
Aku bingung harus menulis apa!
Sementara ribuan, jutaan, atau bahkan milyaran kata-kata berebut untuk diucapkan!
Darahku bukan tinta
Jangan paksa aku untuk terus menulis;
Sajak bukanlah susunan laporan teoritis atas praktek yang kita lakukan sehari-hari
Sajak adalah penyerapan makna dari kesadaran dan pengapuran pikiran
Sajak masih pantas tercipta dari paru-paru yang terlepas
Tapi jika sajak muncul berulangkali hanya dari sebatas tenggorokan..
Lalu apa bedanya menulis dengan mengemis??
Dan rokok ditanganku padam lagi..
Sementara aku masih bingung harus menulis apa!
SEGELAS KOPI DAN MELATI
Aby Azy Tr
Dua sendok kopi dan setengah sendok gula. Tapi entah kenapa kali ini Ikra tanpa menyadari memberi satu sendok gula, pandangannya kosong dan terus mengarah pada sendok yang dipergunakannya untuk mengaduk. Asap tipis yang muncul dari kopi hanya menegaskan dengan keheningan.
Sebuah sofa panjang berwarna hijau dan sedikit lusuh. Entah kenapa Ikra begitu senang menghabiskan waktu sorenya untuk duduk di sofa sambil meminum segelas kopi, sofa yang sengaja ia letakan di halaman belakang rumah dan dikelilingi rimbun pepohonan. Senja kali ini sedikit mendung dan tak semerah senja kemarin.
"Hey, seperti biasa.." ucapku.
"Duduk sendirian menghadap pepohonan, selalu begini di setiap sore.." aku melanjutkan.
Ikra tak terkejut, seperti sebuah kejadian yang selalu berulang di setiap sore dan Ikra sudah dapat menebak bahwa aku pasti datang.
"Masih lebih memilih untuk ditemani segelas kopi pahit??" ucapku sambil melirik kopi yang berada tepat di tengah antara aku dan dia.
"dan masih sabar menunggu kopi itu dingin baru kamu meminumnya??" lanjutku sambil mengarahkan pandangan ke depan, ke arah rimbun pepohonan.
"kenapa kamu selalu hadir di saat aku sedang menikmati kesendirian??" ucap Ikra pelan.
"namaku Melati.." aku menyodorkan tangan sebagai tanda perkenalan.
"dan kenapa setiap kali kita bertemu kamu selalu memperkenalkan diri??" sambung Ikra tanpa memperdulikan tanganku yang mengajaknya berkenalan.
Sejenak kami berdua diam. Sunyi. Hanya suara samar lalu lalang kendaraan di kejauhan. Pepohonan terus menyebarkan aromanya, memperjelas bahwa kesejukan itu ada.
"kenapa sekarang tidak seperti pertama kali kita bertemu?" tanyaku.
"karena aku bosan"
"bosan bukan perwakilan dari seluruh perasaan yang sedang kamu rasakan saat ini" balasku.
"aku benar-benar bosan dengan sikapmu yang selalu sama setiap kali kita bertemu!"
"dengan kemunculanku?"
"ya"
"dengan sapaanku?"
"ya"
"dengan tawaranku untuk berjabat tangan?"
"ya, dan dialog ini pasti selalu kita lakukan setiap sore!" Ikra sedikit menaikan nada bicaranya.
"bosan dengan pertanyaanku?"
"ya, dan setelah ini pasti kamu akan bertanya .. apa kamu tidak pernah mencoba bertanya kepada pepohonan dan kopimu, apakah mereka tidak bosan kepadamu .. dan setelah itu kamu akan berkata .. baik, aku pergi .." Ikra kini berteriak.
Sejenak hening. Tidak ada suara samar lalu lalang kendaraan di kejauhan. Tidak ada pepohonan yang menyebarkan aromanya.
"apa kamu tidak pernah mencoba bertanya kepada pepohonan dan kopimu, apakah mereka tidak bosan kepadamu?"
Hening. Tidak ada suara samar lalu lalang kendaraan di kejauhan. Tidak ada pepohonan yang menyebarkan aromanya.
"baik, aku pergi"
Sunyi. Hanya suara samar lalu lalang kendaraan di kejauhan. Pepohonan terus menyebarkan aromanya, memperjelas bahwa kesejukan itu ada.
Sebuah bunga melati terlepas dari tangkainya dan terjatuh tepat ke dalam air kopi yang sudah dingin. Ikra mengepal gagang cangkir lalu dengan pelan meminumnya.
"kopi pahit yang nikmat, aku selalu tidak pernah berlebihan memberi gula kepada kopiku" gumam Ikra pelan.
No comments:
Post a Comment