BERPETUALANG


KESAN AWAL DI TANAH KERATON


Masjid Gedhe Kauman (kbkjogja.wordpress.com)
"Sugeng rawuh.."

Setelah hampir 19 jam berusaha duduk semanis mungkin di dalam bus, akhirnya empat pasang kaki itu menapaki tanah keraton. Mereka bernama Aby, Agung, Edi dan Danu (selanjutnya disebut kami-red). Sepertinya baru 19 jam yang lalu kami masih berada di Tangerang, duduk-duduk sambil numpang wifi gratisan di rumah Danu, dan sekarang kami ada di pelataran Masjid Gedhe Kauman. Ya! JOGJAKARTA, kota istimewa yang sering disebut-sebut sebagai kota pelajar, sebuah kota yang memaksa kami untuk kembali mengingat bahwa kami dulu bukanlah pelajar yang baik.

Bukan situasi yang menguntungkan ketika kalian tiba di kota Jogjakarta pada pukul 2 pagi, kami disambut oleh jalanan yang sepi, wajah-wajah tukang becak yang terlelap, daun-daun basah yang kedinginan, dan penginapan yang bertuliskan "kamar penuh". Kalimat yang terakhir itu mungkin yang paling tidak menguntungkan, kami tiba tepat di pertengahan bulan Desember, Natal dan tahun baru bukan saja membuat hampir semua penginapan menjadi penuh, tapi juga membuat harga sewanya naik hampir 50%.

Malam pertama kami di Jogjakarta dilalui dengan berputar-putar mencari penginapan. Saat itu hujan yang besar telah menyisakan gerimis yang panjang. Seorang tukang becak berwajah mengantuk menghampiri kami, dengan tata bahasa yang ramah beliau menawarkan mengantar kami menuju Masjid Gedhe Kauman, dengan mengatasnamakan diri kami adalah musafir pada saat itu akhirnya kami menghabiskan sisa malam pertama di pelataran Masjid tertua di Jogjakarta.


Terimakasih tukang becak..
Terimakasih gerimis..
Terimakasih "kamar penuh"..
Terimakasih Masjid tertua..
Terimakasih JOGJAKARTA..

Pagi nanti, selama 4 hari ke depan, kami akan menapaki tempat-tempat istimewa di kota yang istimewa. Sekarang, waktunya tertidur..

* pertanyaan-nya :

1) Berapa tarif standard becak dengan jarak 2 KM di Jogjakarta pada pukul 2 pagi?

No comments:

Post a Comment